Rabu, 04 November 2009

Kristen Eropa Mati Suri

Tiba di Oxford, Inggris pada pertengahan September lalu udara dingin
menyambut saya. Di kota ini masih banyak --dan betul-betul di
dilestarikan--bangunan-bangunan tua yang kokoh dengan arsitektur zaman
pertengahan.

Universitas Oxford adalah identitas lain yang menjulangkan nama kota
ini di dunia. Ada sebuah peristiwa kecil yang unik ten-tang
perpustakaan. Sebelum menerima kartu perpustakaan, semua anggota harus
bersumpah--teks sudah disediakan dari berbagai bahasa Inggris, Prancis,
Jerman, dan Indonesia--untuk tidak akan merusak, membakar, dan mencuri
buku-buku milik perpustakaan. Sumpah ini dilakukan karena dalam
sejarah pernah terjadi pembakaran terhadap perpustakaan Oxford yang
menghanguskan ribuan judul buku dan manuskrip. Kini Oxford memiliki
koleksi buku dan dokumentasi paling besar di dunia dengan 12 juta
judul buku.

Di Oxford juga banyak bangunan gereja, bahkan yang berusia 700 tahun.
Dari arsitektur-arsitektur yang ada saya dapat membayangkan kemajuan
peradaban telah melanda negara itu ratusan tahun lampau, saat
barangkali kita di Indonesia masih telanjang. Pada gereja-gereja tua
itu terdapat nama-nama, lengkap dengan tahun kematian mereka.
Tampaknya didedikasikan bagi orang-orang yang melayani atau tokoh
tertentu.

Gereja-gereja Kian Kosong

Kali ini saya menyaksikan sendiri gereja-gereja yang kian kosong dan
berubah fungsi jadi klub malam, masjid, bar, perpustakaan, sekolah,
bahkan menjadi kuil agama Sheikh. Di Kota Sheffield sebuah gereja
beraliran Anglikan yang tak bertuan lagi "diselamatkan" oleh orang-
orang China yang cinta Tuhan dan mengubahnya menjadi gereja mereka.
Melihat gereja-gereja yang kosong dan sudah berubah fungsi ini Roh
Kudus berbisik di hati saya, "Lihat bangunan ini saksi bisu dari
Spiritual Death of Europe!" Saya terkejut dengan bisikan itu. Saya
bertanya ke mana semua manusia yang pernah mempunyai bapak, ibu,
nenek, kakek Kristen, yang beribadah di gereja itu? Pada gereja-gereja
yang bangunannya menjulang tinggi dan besar itu saya membayangkan daya
tampungnya. "Pasti bisa masuk sekitar 1.000 orang," batin saya.

Satu ketika saya menginap di keluarga "Indonesia" di London. Sang
suami sudah menjadi warga negara Belanda sementara istrinya telah
menjadi warga Amerika. Kami berdis-kusi tentang kekristenan di
Inggris. Kami mempunyai keprihatinan yang sama tentang kehidupan
rohani orang Inggris. Banyak di antara mereka menganggap bahwa gereja
sudah tidak relevan lagi. Hari Minggu adalah waktu yang santai di
rumah dan pergi shopping. Apakah itu artinya mereka sudah jadi ateis?
Tentu ada, tapi pasti tidak semua. Banyak orang Eropa yang tidak ke
gereja lagi walaupun mereka masih mengakui Tuhan. Mereka menganggap
gereja mengajarkan banyak mitos yang berisi dogma dan kebohongan-
kebohongan lain.

Satu ketika dalam perjalanan kereta api London-Oxford, saya berkenalan
dengan seorang Inggris yang naik dari kota Reading. Dia bertanya dalam
rangka apa saya berada di Oxford? Saya bilang studi Misi. Di
telinganya kata "misi" sangat aneh. Ia minta saya mengulangi lagi kata
itu. Lalu saya terangkan peker-jaan saya sebagai rohaniwan yang sedang
studi Misi Kristen di Inggris. Ia minta lagi diterangkan Misi Kristen
itu apa?

Setelah berbincang-bincang saya tahu ia seorang yang skeptis terhadap
agama, apalagi agama Kristen. Ia mengatakan setiap saat ia berdoa.
"Berdoa kepada siapa?" tanya saya. "Well, berdoa kepada Sesuatu yang
Maha...," begitu komentarnya. Ia mempunyai Alkitab, tapi tak tertarik
membacanya dan dianggap banyak mitos. Ia mengkritik kekristen-an
sebagai agama "yang tak tahu diri", dan sok suci padahal dalam sejarah
membunuh orang yang mengatakan kebenaran sains. Belakangan gereja
mengakui kebenaran sains itu. Ia lebih mempercayai teori big bang dan
teori Darwin. Ia juga berkisah, katanya dulu orangtuanya pernah ke
gereja, tapi sudah berhenti ke gereja sejak ia masih kecil.

Saya berusaha menginjilinya. Saya mencoba meyakinkan dia bahwa kalau
ada sesuatu hal yang salah yang pernah gereja lakukan bukan berarti
kebenaran yang sesungguhnya menjadi terbantahkan. Dengan berbagai cara
saya memberitakan siapa Kristus Yesus, baik dengan pendekatan
filosofis, Alkitab dan pragmatis-empiris. Ia cuma cengegesan dan
menganggap saya belum tahu apa-apa. Ia bilang, dengan pekerjaannya
sekarang sebagai pembuat video games, dapat menghibur orang di seluruh
dunia. Itu cukup membuat hidupnya "bermakna."

Mengapa Kekristenan Mati

Saya coba menganalisa mengapa masyarakat di negara-negara Eropa-meski
pun tidak semua-meninggalkan Kekristenan. Pertama, pengaruh
sekulerisme di mana globalisasi telah membuat kehidupan di berbagai
bidang makin mapan. Kemudahan-kemudahan dalam segala aspek membuat
kerinduan orang akan Tuhan dan persekutuan dengan gereja-Nya tidak
lagi begitu mengebu-gebu.

Kedua, teologia yang tidak lagi berlandaskan iman pada Alkitab dan
kepada Tuhan Yesus Kristus. Para pendeta yang ditahbiskan di gereja-
gereja itu adalah lulusan dari sekolah-sekolah teologi yang tidak lagi
beriman kepada Alkitab sebagai firman Allah. Penelitian terhadap Yesus
Sejarah telah membuat banyak orang di Barat menganggap bahwa gereja
selama ini telah merekonstruksi Yesus secara "salah." Menurut mereka
Yesus bukan Tuhan dan Juruselamat.

Ketiga, adalah gagalnya gereja-gereja memuridkan jemaat untuk memiliki
hubungan yang kuat dengan Juruse-lamatnya. Gereja hanya mementingkan
organisasi dan dogma yang kaku. Alkitab hanya didekati secara
metodologis dogmatis semata. Padahal juga adalah serangkaian kesaksian
hidup perjumpaan dan perjalanan bersama Tuhan yang bangkit, dan yang
masih mempunyai kesinambungan dengan kehidupan iman masa kini. Roh
Kudus yang menyambungkan mata rantai pengalaman dan kesaksian zaman
Alkitab dengan kehidupan masa kini gagal dilihat dan dialami.

Hilangnya pengalaman akan Roh Kudus yang dinamis itu membuat orang
lebih suka berspekulasi dan meletakkan iman mereka kepada apa yang
disebut "penemuan". Tetapi apa yang para penganut teologi kritis (high
criticism) temukan sebenarnya bukan penemuan, karena sejak zaman Tuhan
Yesus, dan pada gereja mula-mula sudah banyak usaha untuk mematikan
kesaksian itu dan secara politis, orang-orang skeptis berusaha untuk
mengkondisikan penyangkalan akan Kristus yang bangkit.

Teologi para skeptis ini melihat perwujudan Kerajaan Allah dari aspek
sosial dan transformasi fisik belaka. Gerak Roh Kudus dibatasi, lebih
digairahkan untuk mempercayai dogma-dogma yang bersifat filosofis.
Perhatikanlah orang-orang yang "terhilang" tersebut, pasti pada
umumnya orang-orang yang frustasi dan yang tidak mempunyai hubungan
yang kuat dengan Roh Kudus. Mereka lebih mencintai hikmat dunia ini.
Orang yang punya hubungan kuat dengan Roh Kudus bukan berarti orang
yang tidak mementingkan pengetahuan teologi dan filsafat. Banyak orang
jenius yang begitu committed dalam imannya dan tak terpengaruh menjadi
liar.

Teladan daniel

Tuhan Yesus sudah ribuan tahun yang lalu memperingatkan bahwa jika
orang-orang yang menyebut dirinya sebagai umat Allah itu tidak lagi
menyembah Dia, Ia sanggup membangkitkan batu-batu untuk menyembah-Nya.
Artinya, Tuhan tidak menyayangkan generasi yang menolak Dia. Ia tidak
kurang kemuliaan hanya karena orang-orang meninggalkan Tuhan (dan
sebagai konsekuensinya meninggalkan gereja). Ia tetap membangkitkan
generasi-generasi yang berkomitmen kepada ke-Tuhanan-Nya serta
kebenaran Alkitab. Itu sebabnya orang-orang tulus dan polos ini--yang
bangkit dari negara-negara Afrika dan Asia pada umumnya--menjadi tanah
yang subur bagi lawatan Roh Kudus. ( komen : bisa ajah nih komentar
tentang penipuannya )

Teologi harus terus lurus dan berlandaskan Alkitab sebagai firman
Allah. Setiap orang yang mencintai hikmat, harus merenungkan kisah
Daniel. Daniel seorang yang mendapat pendidikan tinggi di Babel. Ia
bahkan "dipaksa" menjadi orang Babel dengan mengganti namanya. Ia
mempelajari kesusastraan Babel. Penguasa Babel coba mencuci otak
Daniel dan kawan-kawannya. Namun, Alkitab menegaskan bahwa Daniel
tidak menajiskan dirinya dengan apa yang di-makan, dipikirkan,
dihidupi dan diimani oleh orang Babel. Gereja di Indonesia harus
merenungkan kenyataan ini!

Junifrius Gultom
Penulis sedang studi PhD di Universitas Oxford, Inggris.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar